Tanda PD3 Memang Sudah Dekat, Bukan Cuma Perang Rusia-Ukraina

Uji coba rudal balistik antarbenua Hwasong-17 di Bandara Internasional Pyongyang di Pyongyang, Korea Utara, Jumat (18/11/2022). Pemerintah Korea Utara melakukan uji coba rudal balis balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17 yang merupakan rudal terbesar yang dipunyai Korea Utara yang memiliki senjata nuklir, dan merupakan ICBM berbahan bakar cair terbesar di dunia. Rudal yang diluncurkan pada Jumat terbang hampir 1.000 kilometer (621 mil) selama sekitar 69 menit dan mencapai ketinggian maksimum 6.041 kilometer. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)

 Ekonom Nouriel Roubini sempat menyinggung kemunculan Perang Dunia Ketiga (PD3) tahun lalu. Kala itu, ia berada di sebuah forum publik, Yahoo Finance’s 2022 All Markets Summit.

Pria yang dijuluki Dr Doom alias Dr Kiamat itu, merujuk eskalasi konflik Rusia-Ukraina sebagai biang keladi. Ia mengatakan konflik itu sudah menandai awal dari pertempuran global.

“Dalam beberapa hal, Perang Dunia III sudah dimulai,” tegasnya mengutip Financial Tribune.

“Ini dimulai di Ukraina karena konflik ini memiliki implikasi yang lebih luas yang melampaui Rusia dan Ukraina. Ini adalah awal dari sesuatu yang lain,” tegasnya.

Roubini juga menyoroti konflik nuklir di Iran dan gesekan China untuk Taiwan kala itu. Profesor bisnis Universitas New York itu berpendapat perang dingin sudah ada antara Amerika Serikat (AS) dan China, dan itu bisa meningkat menjadi “perang panas” karena Presiden Xi Jinping bertujuan untuk menyatukan China dan Taiwan.

Ancaman lain juga disebut sosok yang meramalkan krisis ekonomi 2008 itu. Tak terkecuali karena rusuhnya Korea Utara (Korut) di semenanjung Korea.

Tapi bagaimana faktanya kini? Berikut rangkuman pemberitaan panasnya dunia saat ini dirangkum CNBC Indonesia Rabu (8/3/2023).

Perang Rusia vs Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina sendiri masih “menggila”. Pertempuran sengit terus terjadi terutama di wilayah Bahkmut.

Kota itu kini disebut neraka total. Pertempuran sengit juga telah menghabiskan cadangan artileri kedua belah pihak.

Perlu diketahui, Bakhmut jadi prioritas Rusia karena dianggap bisa menjadi “keuntungan besar” dalam perang setahun terakhir. Karenanya itu, pasukan dan tentara bayaran Wagner, terfokus di sana.

Namun sebenarnya, bukan itu saja. Yang mengkhawatirkan sejumlah pihak adalah mulai dilatihnya pilot Ukraina untuk tes menerbangkan pesawat serang di AS termasuk jet tempur F-16.

Menurut dua pejabat kongres dan seorang pejabat senior AS, otoritas AS sudah menyetujui dilatihnya 10 pilot Ukraina. Mereka semua akan datang Maret ini.

Namun ditegaskan AS para penerbang tidak akan menerbangkan jet langsung. Mereka latihan dengan menggunakan simulator yang dapat meniru menerbangkan berbagai jenis pesawat.

“Program ini tentang menilai kemampuan mereka sebagai pilot sehingga kami dapat memberi saran yang lebih baik kepada mereka tentang cara menggunakan kemampuan yang mereka miliki dan kami berikan kepada mereka,” kata seorang pejabat administrasi, mengutip CNN International, Senin.

Sebelumnya, Rusia sudah memberi warning akan masifnya bantuan AS ke Ukraina. AS sejauh ini sudah memberikan sejumlah amunisi ke Ukraina, termasuk senjata canggih HIMARS.

Rusia juga membekukan perjanjian pengurangan senjata nuklir START (for Strategic Arms Reduction Treaty) yang dibuat dengan AS, sebagai tanggapan keras atas tindakan Washington dan NATO untuk Ukraina. Padahal perjanjian itu membatasi penggunaan senjata nuklirnya.

Mantan presiden Rusia dan yang juga sekutu Presiden Vladimir Putin, Dmitry Medvedev, mengatakan pasokan senjata Barat yang berkelanjutan ke Kyiv berisiko menimbulkan ‘bencana’ nuklir global. Ini akan memicu PD 3.

Sebelumnya pula dalam wawancara Gubernur Lemhannas RI Andi Widjajanto dengan media massa yang dihadiri CNBC Indonesia, terungkap pula bagaimana Putin memberi pesan untuk dibawa ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), terkait kapan perang nuklir dimulai. Ini terkait serangan udara ke wilayah Rusia.

“Waktu saya bertemu, saya memperkenalkan diri. Kalimat pertama Putin adalah ‘tolong sampaikan ke Presiden Jokowi bahwa Rusia tidak mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir’,” ujar Andi.

“Kalimat keduanya, ‘tapi jika ada serangan udara ke wilayah Rusia, kami mempertimbangkan menggunakan senjata nuklir’,” lanjutnya menceritakan pertemuannya 2022 lalu.

Perseteruan geopolitik antara China dan Amerika Serikat (AS) makin meruncing. Bahkan, Beijing menyebut hubungan keduanya sedang menuju konflik yang tak terelakkan jika Washington tidak mengubah pendekatannya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Qin Gang mengatakan ini dikarenakan niatan AS yang dipandang pihaknya sedang berusaha mengalahkan China. Alih-alih konflik militer, Qin menyebut konflik yang sedang dibangun Negeri Paman Sam adalah zero-sum game yang berarti satu pihak menang dan pihak sebelahnya mati.

“Jika AS tidak menginjak rem tetapi terus mempercepat jalan yang salah, tidak ada pagar pembatas yang dapat mencegah tergelincirnya rel, dan pasti akan ada konflik dan konfrontasi,” paparnya dalam pernyataan pers di sela-sela Kongres Rakyat Nasional (NPC) China, Selasa dikutip The Guardian.

Pernyataan dikatakan Qin terkait persahabatan dekat antara China dan Rusia, sebuah hubungan yang diawasi ketat oleh Barat sehubungan dengan perang di Ukraina. Ia mengatakan hubungan itu ‘menjadi contoh bagi hubungan luar negeri global’.

“Dengan China dan Rusia bekerja sama, dunia akan memiliki kekuatan pendorong. Makin tidak stabil dunia, semakin penting bagi China dan Rusia untuk terus memajukan hubungan mereka,” katanya.

“Ada kontak dekat antara kepemimpinan kedua negara, dengan hubungan kepala negara yang menjadi jangkar hubungan tersebut. Kemitraan strategis pasti akan tumbuh semakin kuat,” tambahnya.

Komentar Qin sejalan dengan pidato pemimpin China, Xi Jinping, kepada delegasi politik pada Senin. Xi menyebut AS sedang melakukan tindakan penindasan terhadap China.

“Negara-negara Barat yang dipimpin oleh AS telah menerapkan penahanan, pengepungan, dan penindasan menyeluruh terhadap China, yang telah membawa tantangan berat yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pembangunan negara kita,” ujarnya.

Hubungan China-AS telah memburuk tajam dalam beberapa tahun terakhir dan upaya untuk memperbaikinya tergelincir awal tahun ini ketika AS menembak jatuh apa yang dikatakannya sebagai balon mata-mata China, yang terbang di wilayah udara AS. China mengklaim balon itu merupakan alat penelitian dan AS bereaksi berlebihan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*