Kisah Om William Besarkan Astra Dengan Duit Rp 2,5 Juta

Menara Astra

PT Astra International Tbk (ASII) membukukan kinerja moncer hingga kuartal III 2022. Di balik moncernya ASII, ada nama besar dibaliknya, yaitu William Soeryadjaya atau Oom William menjadi salah satu pebisnis tersukses di Indonesia.

Dia adalah salah satu pendiri PT Astra International, perusahaan perdagangan umum di sektor otomotif, pertambangan, alat berat, perkebunan, keuangan, infrastruktur dan lainnya.

Oom William memulai bisnisnya dengan proses yang panjang. Jatuh bangun sudah ia lalui, hingga PT Astra International kini menjadi salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia juga di global.

Diketahui, modal awal Oom William mendirikan PT Astra International pada 20 Februari 1957 hanya sebesar Rp 2,5 juta atau sebanyak 2.500 saham. Berdirinya Astra merupakan salah satu titik tonggak Oom William sebagai seorang pengusaha. Sebelumnya ia kerap jatuh bangun dan gagal menggeluti usaha berdagang, bahkan tertipu dengan mitra bisnisnya.

Melalui adiknya Tjia Kian Tie, Oom Wiliam dan Lim Peng Hong (teman sekolah Kian Tie) bergabung dengan membeli perusahaan kecil yang tak aktif berbasis ekspor-impor, lokasi kantornya di Jalan Sabang No 36 A, Jakarta. William dan para mitranya langsung mengganti perusahaan tersebut menjadi Astra. Nama Astra ini berasal dari mitologi Yunani yang artinya dewi terakhir yang terbang ke langit, dan menjadi bintang terang.

Sebagai pengusaha yang visioner, Oom William menambahkan kata ‘International’. Pada waktu itu William ada keinginan agar perusahaan barunya ini bisa berkiprah secara global. Ia pun ingin memberi kesan perusahaannya sebagai perseroan yang berbobot, walaupun pada awalnya Astra di Jalan Sabang ini hanya memiliki beberapa karyawan.

“Padahal karyawannya baru empat orang. terletak di sebuah toko yang sempit, yang kadang kebanjiran bila musim hujan,” jelas buku Man of Honor.

Sedangkan Kian Tie, mengusulkan agar ada simbol perusahaan yang mewakili nama perusahaan yang cukup mentereng tersebut. Maka muncullah logo bola dunia, sebagai logo perusahaan mereka.

Oom William juga sempat berkecimpung di sektor perkebunan, karena tahun 1970-an Indonesia masih banyak mengimpor pangan seperti beras, jagung, gula, hingga kacang.

“Ini adalah peluang bisnis dengan potensi sangat besar yang tidak boleh luput dari rencana besar Astra ke depan,” katanya.

Ia punya keyakinan menjalankan bisnis pertanian sangat cerah karena pasarnya skala global dengan harga dolar, namun ongkos produksinya dengan rupiah. Keinginan Oom William ini ternyata tak direspons positif oleh para direksi Astra pada waktu itu, namun ia tetap nekat.

Akhirnya Wiliam mengeluarkan modal sendiri Rp 10 juta setelah gagal melobi bank untuk mendapat pinjaman. Ia membeli 5.600 hektar lahan di Nunyai Lampung Tengah, selanjutnya mendirikan PT Multi Agro Corporation 9 Juli 1973. Melalui perusahaan barunya ini ia menanam gandum, sorgum, dan jagung. Hasilnya sangat mengecewakan, karena waktu itu Astra sangat awam dengan bidang pertanian.

William pun tak patah arang, ia pun mencoba mengembangkan tanaman singkong atau ubi kayu. Dari bisnis tanaman singkong ini, Oom William mulai memetik keuntungan sehingga bank mau meminjamkan modal untuk bisnis singkongnya. Tahun 1978 membangun pabrik tapioka dari bahan singkong. Multi Agro pun memperluas bisnis ke tanaman kelapa untuk mendapat keuntungan lebih cepat.

Oom William wafat pada tahun 2010. Namun, sosoknya masih dikenang sebagai salah satu pebisnis berpengaruh di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*