Banyak Pabrik Tutup & PHK Buruh, Ada Apa Industri Tekstil RI?

Warga melintas di depan pabrik PT Tuntex, Kab Tangerang, Selasa, 5/4. PT Tuntex Garment Indonesia, pabrik garmen terbesar di Kabupaten Tangerang, bangkrut setelah mengalami penurunan omzet ekspor secara drastis. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Fenomena banyak pabrik tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya kembali marak terjadi, ada apa dengan industri tekstil Indonesia belakangan ini?

Kasus terakhir terjadi pada sebuah pabrik tekstil yang berlokasi di Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten melakukan PHK terhadap 1.163 pekerjanya. Diketahui perusahaan tersebut adalah PT Tuntex Garment yang banyak memproduksi untuk baju kenamaan dunia seperti Puma dan Nike.

Ironisnya, ternyata penutupan pabrik di Cikupa oleh Tuntex Garment ini bukanlah satu-satunya dan bukan yang pertama. Menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), sepanjang tahun 2022 sampai bulan November, tercatat ada 87.000 orang buruh di sektor tekstil nasional, hulu sampai hilir, yang terkena PHK.

Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM BPP API Nurdin Setiawan mengatakan, jika secara global industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terjadi karena dampak dari pandemi tahun 2020-2021, terutama di pasar-pasar ekspor, karena TPT itu 30% nya orientasi ekspor, dan 70% domestik.

“Ketika pandemi ini, yang terdampak dua-duanya, baik secara ekspor maupun secara domestik. Lalu tahun 2022 sesungguhnya adalah tahun harapan, bahwa TPT akan kembali bangkit pasca- pandemi 2 tahun terakhir,” kata Nurdin kepada CNBC Indonesia, Kamis (6/4/2023).

Di kuartal I-2022, kata dia, industri TPT RI masih memiliki satu harapan dan optimisme, tetapi pada saat memasuki kuartal II-2022 itu terjadi perlambatan ekonomi global yang disebabkan oleh 3 faktor utama.

Pertama, terjadinya resesi ekonomi global di negara-negara tujuan ekspor TPT Indonesia. Kedua, masih adanya masalah geopolitik, perang Rusia-Ukraina ini tetap berdampak kepada industri TPT dalam negeri, karena 2 negara ini juga termasuk negara yang cukup berpengaruh dalam ekonomi secara global. Dan yang ketiga, stagflasi.

“Stagflasi terjadi karena kenaikan bahan baku TPT yang tidak diimbangi dengan kenaikan produk garmen atau tekstilnya, nah ini yang mengakibatkan terjadinya penurunan order. Karena di negara-negara tujuan ekspor tersebut, konsumen itu lebih prioritas memilih pangan terlebih dahulu saat resesi, ketimbang mereka untuk membeli sandang sehingga para pembeli memilih untuk mengurangi ordernya ke TPT di Indonesia,” terang Nurdin.

Akibatnya, lanjut dia, ketika order turun maka utilitas juga akan turun. Jadi, sepanjang Tahun 2022 penurunan order untuk perusahaan ekspor rata-rata sekitar 30-50%.

“Nah, kalau katakanlah lebih kecilnya adalah 30%, berarti ada 30% utilitas yang tidak beroperasi di perusahaan, sementara labour cost tetap harus dibayar, sementara karyawannya tidak produktif dan tidak ada output. Ini juga berimbas terhadap terjadinya PHK sepanjang 2022,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan tahun 2023?

Sepanjang situasi dan kondisinya ini masih belum menentu, tetapi industri TPT menyebut bahwa pihaknya juga masih memiliki harapan dan optimis di tahun 2023.

Tetapi kenyataannya, di kuartal I-2023 ternyata masih belum membaik, secara total ekspor juga di Januari ini jika dibandingkan yoy dengan tahun 2022, masih -4% atau turun 4%. Artinya, masih belum bagus. Begitu juga di bulan Februari, secara yoy itu turun 5%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*