Apa Kata Putin soal Penahanan Donald Trump & AS Masuk Neraka?

Russia's President Vladimir Putin shakes hands with U.S. President Donald Trump during a meeting on the sidelines of the G20 summit in Osaka, Japan June 28, 2019. Sputnik/Mikhail Klimentyev/Kremlin via REUTERS  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat heboh. Ia sempat ditahan sebelum masuk ruang persidangan Selasa waktu setempat.

Hal ini terkait kasus suapnya untuk menutupi sejumlah informasi negatif saat mencalonkan diri sebagai Presiden AS 2016. Ada total 34 tuduhan kejahatan oleh kantor Jaksa Distrik Manhattan Alvin Bragg, di mana salah satunya kasus ‘uang tutup mulut’ senilai US$ 130.000 (sekitar Rp 1,9 miliar) ke aktris dewasa Stormy Daniels.

Setelah “dilepas” ia pun mengumpulkan massa di kediamannya di Florida. Trump bahkan berujar “Amerika bakal masuk neraka”.

Lalu, apa kata Presiden Rusia Vladimir Putin soal ini? Trump diketahui selalu “positif” ke Putin bahkan setelah dimulainya perang di Ukraina pada 24 Februari 2022.

Rusia sebenarnya menolak mengomentari penangkapan mantan Trump. Namun, beberapa analis percaya ada lebih banyak alasan di balik keheningan Moskow untuk tidak ikut campur dalam urusan negara lain.

“Kami tidak menganggap diri kami berhak mencampuri urusan dalam negeri Amerika Serikat dengan cara apa pun,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, menurut outlet media pemerintah Rusia TASS yang dikutip Newsweek, Kamis (6/4/2023).

“Kami percaya bahwa AS juga tidak berhak mencampuri urusan kami. Oleh karena itu, kami tidak ingin mengomentari ini,” tambahnya.

Meskipun demikian, menurut Profesor Mark N. Katz dari Fakultas Kebijakan dan Pemerintahan George Mason University Schar sebenarnya Rusia hal itu tak lazim. Pasalnya Rusia telah mengomentari urusan dalam negeri negara lain sejak dulu.

“Sejak zaman Soviet, Moskow telah mengklaim bahwa, tidak seperti Washington, ia tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, meskipun sebenarnya Moskow telah melakukannya,” kata Katz.

“Dengan tidak mengomentari kesulitan Trump, saya menduga Moskow mungkin berusaha untuk mendapatkan perlakuan timbal balik dari Partai Republik pro-Trump khususnya untuk tidak ‘mencampuri’ urusan dalam negeri Rusia dengan mengkritik Putin,” tambahnya.

Sebelumnya, Putin pernah mengomentari dua berita terbesar di AS selama beberapa tahun lalu. Pertama merujuk pada protes Black Lives Matter (BLM) dan kedua, terrait kerusuhan 6 Januari 2021 di US Capitol.

Ketika ditanya oleh seorang reporter tentang tindakan keras Rusia terhadap perbedaan pendapat politik, Putin mengatakan Rusia berusaha menghindari apa yang disebutnya kekacauan, gangguan, dan pelanggaran hukum, yang dialami AS selama protes BLM. Pemimpin Rusia itu juga kemudian mempertanyakan perlunya penangkapan para perusuh 6 Januari, mengatakan orang-orang yang dituduh datang ke Capitol AS hanya dengan “tuntutan politik” dan diperlakukan sebagai “teroris domestik”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*